Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2016

5 Tipe Fotografer yang harus Anda ketahui

Sudah merupakan sifat alami manusia untuk memilah-milah dan mengkategorikan mahkluk hidup, benda mati dan sebagainya tidak terkecuali fotografer. Dalam dunia fotografi internasional dikenal beberapa istilah atau jenis fotografer yg dikutip oleh Enchen Tjin.

1. Amatir (Amateur)
Fotografer amatir adalah fotografer yang mencintai (passionate about) fotografi. Fotografer amatir tidak dibayar untuk berkarya, tapi karya mereka sering lebih baik daripada yang dibayar. Fotografer amatir sebagian besar tidak mendapat pendidikan fotografi secara formal. Mereka mendapatkan pengetahuan fotografi secara informal seperti dari teman, buku, internet dan sebagainya.

2. Profesional
Fotografer profesional adalah fotografer yang dibayar untuk melakukan tugas tertentu (assignment). Pekerjaan utama fotografer ini adalah fotografi. Tugas-tugas fotografer profesional antara lain seperti  iklan, fashion, potret, produk atau event seperti pernikahan, ulang tahun dan sebagainya.
Banyak anggapan bahwa karya fotografer profesional pasti baik, tapi hal ini tidak tentu benar, karena karya fotografer dipengaruhi oleh keinginan pelanggan atau klien. Fotografer profesional juga tidak tentu memakai peralatan fotografi yang termahal. Mereka sangat mempertimbangkan ROI (return of investment). Apakah pembelian alat baru dapat meningkatkan daya saing atau penghasilan mereka? Bila tidak, mereka akan tetap mengunakan peralatan fotografi yang telah mereka miliki.

3. Teknikal
Fotografer ini lebih fokus di dalam mendokumentasi foto apa adanya daripada nilai seni. Contohnya adalah foto astronomi misalnya bulan, bintang, etc, foto makro / close up benda-benda kecil seperti barang-barang antik, batu mineral, kereta api dan sebagainya.

4. Casual / sehari-hari
Ini termasuk semua orang yang memiliki kamera dan mendokumentasikan momen dalam bentuk foto. Fotografer casual tidak memiliki pendidikan formal/informal tentang fotografi, contohnya seperti ibu yang mengambil foto anaknya. Atau seorang remaja  mengambil foto temannya. Sebagian besar fotografer casual mengunakan kamera saku atau telepon selular.

5. Bukan fotografer
Orang yang bukan fotografer adalah orang yang tidak memiliki kamera atau alat untuk merekam gambar, atau orang yang memiliki kamera, tapi tidak pernah/hampir tidak pernah mengunakannya untuk mengambil foto dengan tujuan artistik maupun komunikasi. Mereka biasanya lebih tertarik untuk mengkoleksi alat fotografi atau melakukan  pengukuran alat fotografi dan membandingkannya dengan alat fotografi lainnya.


Post By : Rezky Perdana
Baca selengkapnya

Selasa, 15 November 2016

YongNuo Meluncurkan Lensa 100mm f/2 Untuk Canon Seharga 2 Jutaan!

Bukaan lensa f/2 tentunya menjanjikan hasil foto dengan bokeh yang menakjubkan. Apalagi jika ditambah dengan panjang fokal 100mm yang ‘cukup’ tele.
Nah saat ini lensa 100mm f/2 untuk merk Canon dipasarkan dengan harga 6.8 juta rupiah, harga yang cukup bisa membuat para fotografer dengan budget tipis geleng-geleng kepala sambil pasang wajah mupeng hehe.

Kamu yang selama ini bermimpi bisa merasakan bokeh di bukaan aperture 2.o bisa tersenyum lega. Pabrikan asal Cina, YongNuo, tampaknya cukup jeli melihat hasrat para fotografer ini.
Setelah sukses di pasaran dengan deretan lensa 35 dan 50mm, YongNuo kembali menggebrak dengan lensa 100mm f/2. Tidak tanggung-tanggung, lensa ini dipasarkan hanya seharga US $170 atau jika dirupiahkan dengan kurs saat ini adalah senilai 2,2 juta rupiah!

Seperti kami kutip dari Petapixel, berita peluncuran lensa ini tampil di situs YongNuo Hong Kong.
Dengan tampilan yang begitu mirip dengan versi pabrikan Canon, lensa ini menjanjikan aperture di bukaan f/2, susunan 8 elemen lensa dalam 6 grup, serta memiliki 9 blade aperture.
YongNuo 100mm f/2 ini mengijinkan fotografer untuk menyematkan filter dengan ukuran diameter 58mm.
Kamu bisa menyaksikan video di bawah ini yang memperlihatkan penampakan lensa YN 100mm f/2 ini di Photokina 2016, saat diliput oleh Photogearnews.


Mungkin saja dalam beberapa waktu kedepan, kita akan segera melihat hasil foto dari lensa ini.
Jika hasilnya cukup bisa diandalkan (mengingat harganya yang tak sampai setengah harga lensa Canon), sudah bisa dipastikan banyak fotografer yang akan bersorak gembira.
Kehadiran Yongnuo di ranah persaingan lensa dengan harga murah meriah ini tentu menjadi angin segar bagi fotografer, khususnya yang memiliki budget pas-pasan.
Kamu yang merasa harga lensa-lensa pabrikan kamera terlampau mahal kini bisa melirik Yongnuo untuk alternatifnya.
Meski begitu, hingga saat ini belum diketahui kapan lensa Yongnuo 100mm f/2 ini akan hadir di Indonesia, serta harga resminya.
Semoga saja tidak jauh-jauh dari yang sudah diberitakan di atas.
Jadi, apakah kamu tertarik untuk memiliki lensa YN 100mm f/2 ini?

Diposting Oleh : Ricky Junaidi 
Baca selengkapnya

Kontes Fotografi Nikon, Foto Pemenang Ternyata Gambar Hasil Editan

Nikon baru saja memperoleh tamparan keras terkait kontes fotografi yang baru saja mereka adakan. Bagaimana tidak, dalam kontes fotografi tersebut, Nikon ternyata memilih pemenang yang pada akhirnya diketahui menggunakan gambar hasil Photoshop alias gambar editan. Sontak hal ini pun membuat Nikon jadi korban bully oleh para fotografer dari berbagai penjuru dunia.




Tak hanya memilih foto editan sebagai pemenang kontes fotografi, Nikon cabang Singapura bahkan menyebut gambar pemenang tersebut sebagai hasil foto yang impresif. Dikutip dari Petapixel, Nikon pun menuliskan kalau fotografer tersebut berhasil menangkap momen yang sempurna, di mana nampak sebuah pesawat terkurung dalam bingkai sebuah tangga yang ada di Chinatown.



Para fotografer dari berbagai penjuru dunia pun langsung bereaksi terhadap penunjukan foto hasil editan sebagai pemenang kontes. Terlebih nampak jelas terdapat kotak putih yang ada di sekitar pesawat, mengindikasikan kalau pesawat dalam foto ini merupakan hasil editan. Bukan murni jepretan kamera. Mereka pun berlomba-lomba mengedit foto pemenang tersebut menjadi berbagai gambar yang konyol. Mulai dari kemunculan Godzilla dalam foto hingga munculnya wajah Darth Vader.


Pemilik gambar hasil editan itu sendiri awalnya mengatakan kalau dia beruntung bisa menangkap foto pesawat dalam bingkai sebuah tangga. Namun setelah ramai aksi protes terhadap penunjukan fotonya sebagai pemenang kontes, pria tersebut pun akhirnya mengakui kalau dirinya memang menggunakan aplikasi edit foto PicsArt untuk menghasilkan gambar tersebut.
Dalam akun Instagramnya, fotografer tersebut tak lupa mengucapkan permintaan maafnya kepada Nikon. Terlebih lagi dia juga meminta maaf kepada para fotografer lain terkait penggunaan foto hasil editan dalam kontes fotografi yang diadakan Nikon.
Baca selengkapnya

Senin, 14 November 2016

Dedengkot Fotografi Indonesia Bersatu Bangun Aplikasi Digital



Fenomena senjakala media cetak akibat tergerus perkembangan pesat era digital, menjadi satu hal yang menuntut fotografer Indonesia untuk tampil kreatif dan menemukan bentuk baru agar seni fotografi dapat dinikmati seluruh kalangan dengan mudah juga menyenangkan.

Atas dasar itu, Howard Brawidjaya dan Gunawan Widjaja bersama para fotografer papan atas Indonesia, seperti Fanny Octavianus, Jay Subiakto, John Suryaatmadja, dan Oscar Motuloh, meluncurkan platform digital bernama Calibre. Dapat diakses melalui aplikasi telepon pintar dan website, Calibre menjadi aplikasi pertama di dunia digital Indonesia yang menghadirkan konsultasi dan kurasi fotografi secara online, sehingga membantu para visual artist agar memiliki ruang untuk mempromosikan karya mereka.

Gunawan Widjaja saat merilis aplikasi Calibre di Rumah MAEN Jakarta, Kamis (22/9/2016) mengaku, pembuatan aplikasi ini awalnya hanya keisengan belaka dan melihat betapa karya fotografi di luar negeri begitu sangat dihargai, bertolak belaka dengan apa yang terjadi di Indonesia.
"Kenapa kita gak buat wadah fotografer di Indonesia, supaya kita bisa berbagi? Sudah saatnya kita mulai mengekspose fotografer Indonesia secara e-commerce," katanya.

Oscar Motuloh beranggapan, Calibre akan menjadi ruang mencintai Indonesia melalui medium fotografi. Mengingat apa yang ditampilkan di Calibre adalah karya-karya foto yang menceritakan keragaman budaya, tradisi, dan kekayaan alam Indonesia.
"Dengan hadir secara online, kami ingin memberi kemudahan akses bagi pecinta fotografi yang ingin memiliki karya orisinal dalam bentuk fisik. Calibre hadir untuk merawat dan menghadirkan kembali apresiasi atas karya cipta," ungkap Oscar.

Bersama dengan peluncuran aplikasi Calibre, digelar pula pameran foto bersama dari empat fotografer ternama tanah air. Digelar mulai 22 September hingga 16 Oktober 2016, pameran ini mengusung tema khusus yang menghadirkan keselarasan dan sinergi dalam membaca Indonesia dari berbagai perspektif.
Baca selengkapnya

Ribuan Fotografer Ramaikan Canon PhotoMarathon Indonesia 2016



Usai sukses menggelar Canon PhotoMarathon Indonesia (CPMI) VIII 2016 di Surabaya dan Yogyakarta, Canon menutup ajang tahunannya di Jakarta, Sabtu (12/11/2016) di Epicentrum, Kuningan.

Pada acara terakhir ini, tampak ribuan pecinta fotografi dari berbagai latar belakang memadati atrium Epiwalk. Tentunya ditambah dengan atribut mereka masing-masing, peserta CPMI tak hanya terdiri dari fotografer berpengalaman saja, namun ada beberapa di antaranya adalah pelajar.

"CPMI 2016 diadakan tiap tahunnya sebagai wadah untuk para pecinta fotografi untuk memperluas jejaring sosial dan silaturahmi," ucap Merry Harun, Direktur Divisi Canon, PT Datascrip.

Perihal jumlah peserta di Jakarta tahun ini lebih banyak ketimbang jumlah peserta yang ikut tahun lalu. "Kali ini ada sekitar 2.000 peserta lebih yang ikutan ajang di Epicentrum kali ini," ungkap Yase Defirsa Cory, Marketing Manager Canon PT Datascrip.

"Peningkatan jumlah peserta pun tak terjadi di Jakarta saja. Surabaya dan Yogyakarta pun mengalami peningkatan yang tinggi, di mana ada sekitar 683 peserta di Surabaya dan 1.857 peserta di Yogyakarta," tambah Yesa.

Di Jakarta, peserta harus mengambil foto dengan tiga pilihan tema yang sudah ditentukan. Kali ini, tiga tema tersebut adalah "Saling menghargai, Sangat bernilai, Bersinar dalam kegelapan".

Tiap pemenang dari masing-masing tema akan mendapatkan kamera DSLR EOS 700D dan EOS 1200D, dan kesempatan untuk ikut serta dalam photo clinic di Danau Toba.

Selain itu, akan dipilih juga juara umum yang akan membawa pulang 1 unit kamera DSLR Canon EOS 750D, lensa EF-S 18-55 serta perjalanan klinik foto ke Jepang bersama juara dari kota Surabaya dan Yogyakarta.

Sumber : Liputan6
Baca selengkapnya

Minggu, 13 November 2016

Apa Keunggulan Olympus Dibanding Sony, Panasonic & Fujifilm?

Peluncuran kamera mirrorless terbaru Olympus.

Sejumlah vendor kamera menawarkan keunggulan dari masing-masing produk yang diluncurkan ke pasaran. Hal ini membuat fotografer pemula bingung ketika kali pertama ingin membeli kamera.

Salah satu vendor kamera kenamaan asal Jepang, Olympus, mengklaim memiliki karakter berbeda dari kamera yang ada di pasaran saat ini. Lalu, apa keunggulan dari kamera Olympus dari merek kamera lainnya, seperti Sony, Panasonic, dan Fujifilm?
"Panasonic memiliki sejarah panjang soal videografi, di mana mereka fokus pada perekaman video. Sementara Fujifilm dikenal sebagai kamera film dan desain retronya, sedangkan Sony terkenal dengan sensor kamera full frame," kata Lucas Tan, Regional Product Manager, Imaging Business Division Southeast Asia and Asia Olympus, Selasa (26/4/2016) di bilangan SCBD, Jakarta.
Olympus sendiri, lanjutnya, memiliki karakter kecepatan dan kestabilan saat memotret gambar. Tanpa harus menggunakan alat bantu, seperti tripod, kamera Olympus dapat mengunci obyek dengan cepat meskipun dalam kondisi minim cahaya.

"Pertanyaannya adalah bagaimana Anda mengambil foto di kondisi cahaya rendah dengan satu tangan tanpa tripod selama 1 detik, memakai kamera DSLR yang Anda miliki saat ini? Olympus dapat melakukan hal itu dengan mudah. Dijamin foto yang dihasilkan terlihat tajam dan detail," ujar Lucas dengan percaya diri.
Di samping itu, Lucas juga membandingkan kamera DSLR kelas profesional yang baru saja diluncurkan dua raksasa vendor kamera, Nikon dan Canon.
"Nikon mengeluarkan D5 dan Canon baru saja merikis 1Dx Mark II. Mirrorless saat ini sudah melewati DSLR tradisional. Sistem micro four thirds Olympus ke depannya akan meng-cover semua kondisi pemotretan seperti yang telah diadopsi Nikon D5 dan Canon 1Dx Mark II," paparnya.
Soal teknologi perekaman video, Lucas mengklaim bahwa Olympus tidak fokus pada video karena sejarah Olympus adalah sebagai penyedia perangkat fotografi, yang sudah 80 tahun membuat kamera.
Baca selengkapnya

GFX-50S, Kamera Medium Format 51,4 Megapiksel dari Fujifilm

Tampilan kamera medium format perdana dari Fujifilm, GFX-50S (sumber: petapixel.com)

Fujifilm akhirnya resmi memperkenalkan kamera medium format perdana. Dalam gelaran PhotoKina di Berlin, Senin (19/9/2016) waktu setempat, perusahaan asal Jepang itu memperkenalkan sistem kamera baru GFX dengan sensor CMOS berukuran besar, yakni 43,8mm dan 32,9mm.

Kamera medium format perdana dari Fujifilm, GFX-50S (sumber: engadget.com)

Seri pertama kamera GFX ini diberi nama GFX-50S, dengan berat hanya 800 gram. Sama seperti seri X, GFX merupakan kamera mirrorless dengan desain yang lebih ringkas dan memiliki resolusi 51,4MP.

Mengutip informasi dari laman The Verge, Selasa (20/9/2016), sensor dalam kamera ini 70 persen lebih besar dari format 35mm. Ukuran sensor ini juga jauh lebih besar dari sensor APS-C yang lebih umum dipakai kamera mirrorless dan DSLR saat ini.

Kamera ini juga dibekali viewfinder yang dapat dilepas dan diletakkan di bagian atas. Selain itu, ada pula viewfinder alternatif yang ditujukan untuk mengambil video dengan sudut berputar.

Kamera ini memiliki resolusi 51,4MP dengan sistem lensa baru. Pada kesempatan tersebut, Fujifilm juga memperkenalkan sistem lensa G-mount yang memang ditujukan untuk keperluan kamera medium format.

Sayangnya, Fujifilm belum membocorkan banderol harga dari GFX-50S. Namun perusahaan itu menargetkan harganya akan berada di bawah US$ 10.000, ditambah dengan lensa GF 63mm dan viewfinder. Rencananya, kamera ini sudah tersedia pada awal 2017.

Kamera medium format perdana dari Fujifilm, GFX-50S, yang memiliki resolusi 51,4MP (sumber: pocketlint.com)

Selain Fujifilm, perusahaan lain yang lebih dulu memperkenalkan teknologi kamera serupa adalah Hasselblad lewat seri X1D. Kamera medium format perusahaan Swedia itu sendiri dibanderol dengan harga US$ 9.000 (Rp 118 jutaan).

Sebagai informasi, kamera medium format memiliki banyak keunggulan yang tak dimiliki kamera lain. Salah satunya adalah kemampuan menciptakan foto kelas profesional yang tak dapat dihasilkan kamera dengan format lebih kecil.

Biasanya, kamera medium format hadir dengan desain yang relatif besar dan berat. Kamera jenis ini memang kerap digunakan dalam studio fotografi. Karenannya, bobot yang ringan jelas menjadi keunggulan dua perusahaan kamera kenamaan tersebut.
Baca selengkapnya

Foto Orang Utan Ini Dinobatkan sebagai Foto Terbaik Dunia 2016


 Sebuah Museum Sejarah Alam yang bertempat di London baru saja mengumumkan pemenang penghargaan kontes tahunan Wildlife Photographer of the Year. Foto yang menjadi juara merupakan foto orang utan asal Indonesia yang sedang memanjat pohon.


Dalam kompetisi tersebut, juri harus bekerja keras karena menerima lebih dari 50.000 foto dari 95 negara yang berbeda. Jumlah itu kemudian diseleksi hingga menjadi 100 daftar foto terbaik, yang juga dipamerkan di Museum Sejarah Alam di London, seperti dilansir businessinsider.co.id, Kamis (27/10/2016).
Foto terbaik yang menggambarkan kehidupan orang utan tersebut merupakan karya seorang ilmuwan yang juga seorang fotografer kebangsaan Amerika, Tim Laman dengan judul "Entwined Lives".



Selain Tim Laman, ada juga penghargaan khusus yang diberikan kepada peserta lomba yang berusia dibawah 17 tahun asal London, Gideon Knight dengan karyanya berjudul "The Moon and The Crow".
Foto-foto pemenang nantinya akan dibawa keliling dan dipamerkan dalam rangkaian tur Museum Sejarah Alam London, mulai dari Inggris hingga ke negara-negara lainnya.
Baca selengkapnya

Melihat Pola Hidup Suku Nomaden Mongolia dari Bidikan Lensa

Fotografer asal Italia, Marco Giovanelli, memutuskan untuk mencari jalan baru sebagai fotografer profesional dengan terjun langsung tinggal bersama keluarga nomaden di Mongolia. Giovanelli dikenal sebagai fotografer yang gemar berpetualang, menemukan sisi lain keindahan, dan hobi menyerap setiap sudut magis dari kebudayaan. “Saya suka bercerita tentang orang-orang dan berbagai tempat menawan melalui gambar, wajah dan pemandangan mengungkapkan lebih dari sekadar kata-kata sederhana,” kata Giovanelli seperti dikutip dari situs pribadinya, Senin (31/10/2016).

Lebih jauh Giovanelli mengungkapkan, cintanya kepada kehidupan budaya Asia mendorongnya untuk melakukan perjalanan selama 6 bulan untuk berpergian dan mengungkap ide-ide baru dari foto dan proyek yang akan dibuatnya. Perjumpaannya dengan keluarga nomaden menjadi pengalaman paling berharga bagi dirinya selama menjadi fotografer profesional.

Giovanelli menceritakan betapa uniknya keluarga nomaden Mongolia. Mereka yang lebih dikenal dengan nama Suku Tsaatan tinggal di rumah terbuka yang dikenal dengan nama “Gers”. Rumah itulah yang kemudian menjadi sentral kehidupan dalam kegiatan sehari-hari yang unik.

Komunitas nomaden ini berpindah sambil menggembala ternak. Bagi mereka hewan ternak adalah segalanya, dan dianggap penyokong kehidupan. Daging, susu, dan kulitnya bisa digunakan. Tak hanya itu, kotoran ternak bahkan juga digunakan sebagai bahan bakar kompor.

Meski pola hidup nomaden telah ditinggalkan masyarakat modern karena dianggap kuno, namun keluarga nomaden Mongolia akrab dengan berbagai aktivitas kehidupan modern, seperti menonton televisi hingga menggunakan kendaraan bermotor. Rumah yang menjadi pusat kehidupan, menciptakan rasa kebersamaan yang kuat di antara anggota keluarga.

Berikut foto-foto suku nomaden Mongolia hasil jepretan Marco Giovanelli.

 Foto : Marco Giovanelli


  Foto : Marco Giovanelli


  Foto : Marco Giovanelli


  Foto : Marco Giovanelli

  Foto : Marco Giovanelli


Sumber : Liputan6
Baca selengkapnya

RIBUAN FOTOGRAFER DAN MODEL MEMBANJIRI KAWASAN KOTA TUA


Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat menjadi ramai oleh ribuan fotografer, ratusan model dan puluhan make up artist. Pasalnya keramaian tersebut dikarenakan event yang diselenggarakan oleh Komunitas Fotografer dan Model (KFM) untuk merayakan hari jadinya yang kedua. Event yang diadakan hari Minggu, 23 Oktober itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi oleh para penggemar fotografi diberbagai daerah, bahkan banyak pula yang datang dari luar pulau jawa. Tak hanya itu, ada pula model khusus yang didatangkan dari taiwan untuk memeriahkan acara ini. Pelepasan 2222 balon diawali untuk membuka secara resmi acara tersebut dan dilanjutkan dengan sambutan Presiden KFM, Shan Shin.

    Event akbar ini juga mendapat dukungan serta karangan bunga dari Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Serta melibatkan Dinas Perhubungan dan Kepolisian Lalu Lintas DKI Jakarta untuk mengamankan acara tersebut dan mengatasi kemacetan area tersebut.

    “Saya sengaja memilih lokasi dipinggir keles ini karena saya sangat menghargai tempat komunitas ini lahir.” Ujar Presiden KFM yang akrab disapa kokosan ini. Tidak tanggung-tanggung, terdata lebih dari 2222 Fotografer, 222 Model, 22 Make Up Artist serta 222 pameran foto terbaik yang menyertakan acara tersebut. Karenanya pihak panitia antusias ini merupakan event fotografi terbesar se-Indonesia pada tahun ini. Berbagai property pun telah disiapkan oleh panitia dari berbagai sponsor meliputi, Fire Truck dari perusahaan AYAXX, mobil kijang tua, dan motor gede demi memeriahkan dan menambah kesan artistik terhadap foto yang akan dihasilkan nanti.

    “Saya datang jauh-jauh dari medan, karena memang saya melihat ada event besar seperti ini dan langsung saya menyiapkan tiket untuk ke Jakarta, walaupun gerimis tapi saya salut, semangat kawan-kawan pecinta fotografi tidak pernah surut untuk memotret.” Sebut Dimas saat ditemui disela-sela kegiatan hunting.

     Selesainya acara ini panitia juga memberikan penghargaan kepada fotografer, model dan make up artist berupa sertifikat, dan panitia juga memberikan penghargaan kepada fotografer dan model terbaik dalam event ini.

Post By : Ricky Junaidi
Baca selengkapnya

Sabtu, 12 November 2016

DJI Matrice 600, Drone Terbaru Untuk Aerial Photography

          DJI adalah salah satu vendor yang dikenal karena drone maupun inovasi dalam dunia teknologi khususnya kamera. Tak hanya drone, beberapa produk lain seperti Gimbal/ Axis dan kamera juga dikenal secara luas. Dilansir dari situs GSMArena (18/4/2016) DJI merilis drone terbaru yang bertajuk DJI Matrice 600 dimana memang memiliki kemampuan Aerial Photography terbaik saat ini.
DJI Matrice 600 diklaim sebagai drone paling kuat yang diproduksi DJI dan memang dirancang untuk mengangkat rig kamera yang berbobot berat serta gimbal nya sekaligus. Memang seri sebelumnya masih terbatas pada kemampuan angkat beban saat terbang dan DJI Matrice 600 membawa titik cerah karena mampu mengangkat beban hingga maksimal 6 Kg.

DJI Matrice 600 memiliki enam buah rotor atau kipas yang ukuranya lebih besar sehingga mampu mengangkat beban lebih berat pulas. Drone ini memiliki penuh untuk sederetan produk DJI lain seperti Zenmuse Z15 dan tentunya seri gimbat terbaru DJI Ronin-MX.

Seri DJI Matrice 600 menggunakan A3 Flight kontroler terbaru sesuai keterang dari situs resmi DJI, sehingga lebih nyaman digunakan saat mengendalikan produk ini. Kontroler A3 Flight ini sendiri menggunakan gelombang sinus yang mampu secara responsif mengendalikan drone dengan akurat di udara.

Sistem Kontroller A3 dapat diupgrade ke A3 PRO dimana menggunakan 3 buah sistem GPS dan tiga unit inertial measurement units. Drone ini sudah support DJI Real-Time Kinematic technology yang menawarkan pola penerbangan akurat serta dapat di duplikat koordinat lokasinya sehingga memungkinkan pengguna mendapatkan gambar yang sama walau terbang beberapa kali.


Teknologi Lightbridge 2 video transmission technology  mampu mengirimkan video beresolusi Full HD 1080p dengan jarak mencapai 5 kilometer, wow sungguh optimal sob. Keunggulan DJI Matrice 600 adalah memiliki 6 buah baterai, jika satu baterai habis drone ini tetap dapat terbang karena ada cadangannya.

Perkiraaan waktu terbangnya sendiri jika dibebani dengan DJI Zenmuse Z5 cukup lama hingga mencapai 36 menit. Sedangkan jika digantungi kamera RED EPIC maka akan menurun hingga 16 menit, jadi beban yang dibawa memang mempengaruhi hemat atau tidaknya daya baterai.

Drone ini mendukung aplikasi DJI GO yang memungkinkan pengguna untuk memantau feed video, melihat status baterai maupun status redundansi dan kekuatan transmisi. DJI GO juga memungkinkan pengaturan dari sisi kamera seperti  mengatur kamera aperture, shutter speed, foto dan video capture pada X-series Zenmuse dan mengatur  fokus jarak jauh pada Zenmuse X5 dan Z5R.

Harga DJI Matrice 600 sendiri mencapai $ 4.599 atau mencapai 60 jutaan, wow sunggung tinggi ya sob. Disamping itu untuk kelengkapan gimbal terbaru yaitu Ronin-MX dibandrol senilai $ 1.599 atau sekitar 21 jutaan. Walau harga tinggi sudah pasti kualitas Aerial Photography dan videonya sudah pasti optimal.

Baca selengkapnya

Harga dan Spesifikasi Kamera Sony A6000 Terbaru

Jenis kamera yang ditawarkan di pasaran nampaknya akan semakin ramai dengan hadirnya kamera prosumer dan kamera mirrorless yang akhir-akhir ini semakin ramai diperbincangkan.

Khususnya kamera mirrorless yang perkembangannya cukup pesat hingga saat ini. Kamera yang digadang-gadangkan sebagai kamera tengah antara kamera pocket dan DSLR ini banyak dicari pengguna kamera yang ingin merasakan kualitas sebuah kamera mirrorless.

Bukan tanpa sebab kamera mirrorless disebut sebagai kamera tengah. Karena memang awalnya kamera ini dibuat untuk orang-orang yang menginginkan kamera berukuran tidak sebesar DSLR namun mampu menghasilkan kualitas gambar yang sama atau setidaknya mampu menyaingi kamera DSLR.

Karena memang jika urusan kualitas gambar, kamera DSLR mempunyai banyak kelebihan dibanding kamera pocket. Kamera mirrorless ini bagai sebuah jawaban akan penantian panjang. Saat ini, banyak kamera mirrorless yang hampir menyerupai kamera DSLR secara tampilan sehingga masyarakat awam agaknya sulit membedakan kedua kamera tersebut secara sekilas mata. Bagi anda yang kebingungan, perbedaannya akan sedikit sulit jika hanya dilihat dari luar saja.

Mungkin perbedaannya dari ukuran kamera mirrorless yang tentu saja lebh kecil dari kamera DSLR. Selain itu yang membedakan adalah, jika di DSLR terdapat cermin pemantul cahaya maka di kamera mirrorless cermin tersebut ditiadakan. Yang berarti kamera mirrorless tidak mempunyai optik viewfinder.

Itulah juga mengapa kamera ini disebut mirrorless. Salah satu pengembang dan produsen kamera yang banyak melakukan pengembangan di kategori kamera mirrorless adalah Sony. Mungkin nama ini tidak asing bagi anda yang sudah malang melintang di dunia elektronik dan kamera. Ya, Sony memang sebuah nama besar yang tak asing di dunia kamera. Salah satu produk mirrorless dari Sony yang disebut mempunyai kualitas terbaik yaitu kamera Sony A6000 yang mana digadang-gadangkan sebagai kamera dengan auto fokus tercepat.


Harga Kamera Sony A6000

Kamera Sony A6000 merupakan salah satu kamera mirrorless terbaru dari Sony yang dirilis pada bulan April 2014. Harganya ketika dirilis mencapai US$650 untuk body only dan US$800 untuk paket dengan lensa kit. Sekarang ini, harga sebuah kamera Sony A6000 adalah sekitar Rp 7.600.000 hingga Rp 9.500.000.

Spesifikasi Kamera Sony A6000

Sony A6000 merupakan kamera pengganti brand NEX milik kamera-kamera mirrorless Sony. Kamera ini disebut sebagai kamera dengan auto fokus tercepat di dunia. Secara tampilan dari luar, Sony A6000 tampak lebih kaku dan lebih kotak dibanding kamera mirrorless atau DSLR pada umumnya sehingga nampaknya sedikit menimbulkan kesan vintage namun futuristik.

Ukuran kamera ini sekitar 15.4 x 14.5 x 13 cm. Kamera ini dilengkapi dengan sensor CMOS APSC  yang mempunyai resolusi 24.3 Megapixel dan dipasangkan dengan BIONZX Image Processor atau prosesor pengolah gambar BIONZX  yang membuat kamera ini dapat menjadi senjata andalan anda untuk mengabadikan gambar-gambar dengan berkualitas dan cepat. Selain itu, kamera ini juga mempunyai sensitivitas ISO hingga 25600 yang memudahkan anda untuk mengambil gambar disaat minim cahaya.

Fitur unggulan yang ingin ditekankan Sony adalah kemampuan kinerja AF yang diklaim tercepat di dunia yakni, 0.06 detik, tercepat di kelasnya. Sistem hybrid AF ini juga dapat mengcover 92% frame dan dapat melakukan continous shooting pada 11 fps.

Mendapatkan foto tajam dengan akurat akan lebih mudah berkat adanya dukungan titik autofocus yang mencapai 179 titik. Kamera ini juga telah menawarkan zebra pattern dan output HDMI bersih bagi pecinta film. Selain itu juga terdapat LCD 921k Xtra Fine-dot yang berkururan 3 inchi dan dapat dimiringkan.

Layaknya kamera mirrorless, kamera ini tidak mempunyai optic viewfinder, namun A6000 dibekali dengan electronic viewfinder 1440k dots. Untuk pencegahan terhadap blur, kamera ini juga dilengkapi dengan Optical Steadyshot. Untuk konektivitas, kamera ini bahkan bisa terkoneksi dengan wifi. Jika anda mencari kamera mirrorless canggih, kamera Sony A6000 ini nampaknya jawaban atas doa-doa anda selama ini.
Baca selengkapnya