Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2016

5 Tipe Fotografer yang harus Anda ketahui

Sudah merupakan sifat alami manusia untuk memilah-milah dan mengkategorikan mahkluk hidup, benda mati dan sebagainya tidak terkecuali fotografer. Dalam dunia fotografi internasional dikenal beberapa istilah atau jenis fotografer yg dikutip oleh Enchen Tjin.

1. Amatir (Amateur)
Fotografer amatir adalah fotografer yang mencintai (passionate about) fotografi. Fotografer amatir tidak dibayar untuk berkarya, tapi karya mereka sering lebih baik daripada yang dibayar. Fotografer amatir sebagian besar tidak mendapat pendidikan fotografi secara formal. Mereka mendapatkan pengetahuan fotografi secara informal seperti dari teman, buku, internet dan sebagainya.

2. Profesional
Fotografer profesional adalah fotografer yang dibayar untuk melakukan tugas tertentu (assignment). Pekerjaan utama fotografer ini adalah fotografi. Tugas-tugas fotografer profesional antara lain seperti  iklan, fashion, potret, produk atau event seperti pernikahan, ulang tahun dan sebagainya.
Banyak anggapan bahwa karya fotografer profesional pasti baik, tapi hal ini tidak tentu benar, karena karya fotografer dipengaruhi oleh keinginan pelanggan atau klien. Fotografer profesional juga tidak tentu memakai peralatan fotografi yang termahal. Mereka sangat mempertimbangkan ROI (return of investment). Apakah pembelian alat baru dapat meningkatkan daya saing atau penghasilan mereka? Bila tidak, mereka akan tetap mengunakan peralatan fotografi yang telah mereka miliki.

3. Teknikal
Fotografer ini lebih fokus di dalam mendokumentasi foto apa adanya daripada nilai seni. Contohnya adalah foto astronomi misalnya bulan, bintang, etc, foto makro / close up benda-benda kecil seperti barang-barang antik, batu mineral, kereta api dan sebagainya.

4. Casual / sehari-hari
Ini termasuk semua orang yang memiliki kamera dan mendokumentasikan momen dalam bentuk foto. Fotografer casual tidak memiliki pendidikan formal/informal tentang fotografi, contohnya seperti ibu yang mengambil foto anaknya. Atau seorang remaja  mengambil foto temannya. Sebagian besar fotografer casual mengunakan kamera saku atau telepon selular.

5. Bukan fotografer
Orang yang bukan fotografer adalah orang yang tidak memiliki kamera atau alat untuk merekam gambar, atau orang yang memiliki kamera, tapi tidak pernah/hampir tidak pernah mengunakannya untuk mengambil foto dengan tujuan artistik maupun komunikasi. Mereka biasanya lebih tertarik untuk mengkoleksi alat fotografi atau melakukan  pengukuran alat fotografi dan membandingkannya dengan alat fotografi lainnya.


Post By : Rezky Perdana
Baca selengkapnya

Selasa, 15 November 2016

YongNuo Meluncurkan Lensa 100mm f/2 Untuk Canon Seharga 2 Jutaan!

Bukaan lensa f/2 tentunya menjanjikan hasil foto dengan bokeh yang menakjubkan. Apalagi jika ditambah dengan panjang fokal 100mm yang ‘cukup’ tele.
Nah saat ini lensa 100mm f/2 untuk merk Canon dipasarkan dengan harga 6.8 juta rupiah, harga yang cukup bisa membuat para fotografer dengan budget tipis geleng-geleng kepala sambil pasang wajah mupeng hehe.

Kamu yang selama ini bermimpi bisa merasakan bokeh di bukaan aperture 2.o bisa tersenyum lega. Pabrikan asal Cina, YongNuo, tampaknya cukup jeli melihat hasrat para fotografer ini.
Setelah sukses di pasaran dengan deretan lensa 35 dan 50mm, YongNuo kembali menggebrak dengan lensa 100mm f/2. Tidak tanggung-tanggung, lensa ini dipasarkan hanya seharga US $170 atau jika dirupiahkan dengan kurs saat ini adalah senilai 2,2 juta rupiah!

Seperti kami kutip dari Petapixel, berita peluncuran lensa ini tampil di situs YongNuo Hong Kong.
Dengan tampilan yang begitu mirip dengan versi pabrikan Canon, lensa ini menjanjikan aperture di bukaan f/2, susunan 8 elemen lensa dalam 6 grup, serta memiliki 9 blade aperture.
YongNuo 100mm f/2 ini mengijinkan fotografer untuk menyematkan filter dengan ukuran diameter 58mm.
Kamu bisa menyaksikan video di bawah ini yang memperlihatkan penampakan lensa YN 100mm f/2 ini di Photokina 2016, saat diliput oleh Photogearnews.


Mungkin saja dalam beberapa waktu kedepan, kita akan segera melihat hasil foto dari lensa ini.
Jika hasilnya cukup bisa diandalkan (mengingat harganya yang tak sampai setengah harga lensa Canon), sudah bisa dipastikan banyak fotografer yang akan bersorak gembira.
Kehadiran Yongnuo di ranah persaingan lensa dengan harga murah meriah ini tentu menjadi angin segar bagi fotografer, khususnya yang memiliki budget pas-pasan.
Kamu yang merasa harga lensa-lensa pabrikan kamera terlampau mahal kini bisa melirik Yongnuo untuk alternatifnya.
Meski begitu, hingga saat ini belum diketahui kapan lensa Yongnuo 100mm f/2 ini akan hadir di Indonesia, serta harga resminya.
Semoga saja tidak jauh-jauh dari yang sudah diberitakan di atas.
Jadi, apakah kamu tertarik untuk memiliki lensa YN 100mm f/2 ini?

Diposting Oleh : Ricky Junaidi 
Baca selengkapnya

Kontes Fotografi Nikon, Foto Pemenang Ternyata Gambar Hasil Editan

Nikon baru saja memperoleh tamparan keras terkait kontes fotografi yang baru saja mereka adakan. Bagaimana tidak, dalam kontes fotografi tersebut, Nikon ternyata memilih pemenang yang pada akhirnya diketahui menggunakan gambar hasil Photoshop alias gambar editan. Sontak hal ini pun membuat Nikon jadi korban bully oleh para fotografer dari berbagai penjuru dunia.




Tak hanya memilih foto editan sebagai pemenang kontes fotografi, Nikon cabang Singapura bahkan menyebut gambar pemenang tersebut sebagai hasil foto yang impresif. Dikutip dari Petapixel, Nikon pun menuliskan kalau fotografer tersebut berhasil menangkap momen yang sempurna, di mana nampak sebuah pesawat terkurung dalam bingkai sebuah tangga yang ada di Chinatown.



Para fotografer dari berbagai penjuru dunia pun langsung bereaksi terhadap penunjukan foto hasil editan sebagai pemenang kontes. Terlebih nampak jelas terdapat kotak putih yang ada di sekitar pesawat, mengindikasikan kalau pesawat dalam foto ini merupakan hasil editan. Bukan murni jepretan kamera. Mereka pun berlomba-lomba mengedit foto pemenang tersebut menjadi berbagai gambar yang konyol. Mulai dari kemunculan Godzilla dalam foto hingga munculnya wajah Darth Vader.


Pemilik gambar hasil editan itu sendiri awalnya mengatakan kalau dia beruntung bisa menangkap foto pesawat dalam bingkai sebuah tangga. Namun setelah ramai aksi protes terhadap penunjukan fotonya sebagai pemenang kontes, pria tersebut pun akhirnya mengakui kalau dirinya memang menggunakan aplikasi edit foto PicsArt untuk menghasilkan gambar tersebut.
Dalam akun Instagramnya, fotografer tersebut tak lupa mengucapkan permintaan maafnya kepada Nikon. Terlebih lagi dia juga meminta maaf kepada para fotografer lain terkait penggunaan foto hasil editan dalam kontes fotografi yang diadakan Nikon.
Baca selengkapnya

Senin, 14 November 2016

Dedengkot Fotografi Indonesia Bersatu Bangun Aplikasi Digital



Fenomena senjakala media cetak akibat tergerus perkembangan pesat era digital, menjadi satu hal yang menuntut fotografer Indonesia untuk tampil kreatif dan menemukan bentuk baru agar seni fotografi dapat dinikmati seluruh kalangan dengan mudah juga menyenangkan.

Atas dasar itu, Howard Brawidjaya dan Gunawan Widjaja bersama para fotografer papan atas Indonesia, seperti Fanny Octavianus, Jay Subiakto, John Suryaatmadja, dan Oscar Motuloh, meluncurkan platform digital bernama Calibre. Dapat diakses melalui aplikasi telepon pintar dan website, Calibre menjadi aplikasi pertama di dunia digital Indonesia yang menghadirkan konsultasi dan kurasi fotografi secara online, sehingga membantu para visual artist agar memiliki ruang untuk mempromosikan karya mereka.

Gunawan Widjaja saat merilis aplikasi Calibre di Rumah MAEN Jakarta, Kamis (22/9/2016) mengaku, pembuatan aplikasi ini awalnya hanya keisengan belaka dan melihat betapa karya fotografi di luar negeri begitu sangat dihargai, bertolak belaka dengan apa yang terjadi di Indonesia.
"Kenapa kita gak buat wadah fotografer di Indonesia, supaya kita bisa berbagi? Sudah saatnya kita mulai mengekspose fotografer Indonesia secara e-commerce," katanya.

Oscar Motuloh beranggapan, Calibre akan menjadi ruang mencintai Indonesia melalui medium fotografi. Mengingat apa yang ditampilkan di Calibre adalah karya-karya foto yang menceritakan keragaman budaya, tradisi, dan kekayaan alam Indonesia.
"Dengan hadir secara online, kami ingin memberi kemudahan akses bagi pecinta fotografi yang ingin memiliki karya orisinal dalam bentuk fisik. Calibre hadir untuk merawat dan menghadirkan kembali apresiasi atas karya cipta," ungkap Oscar.

Bersama dengan peluncuran aplikasi Calibre, digelar pula pameran foto bersama dari empat fotografer ternama tanah air. Digelar mulai 22 September hingga 16 Oktober 2016, pameran ini mengusung tema khusus yang menghadirkan keselarasan dan sinergi dalam membaca Indonesia dari berbagai perspektif.
Baca selengkapnya

Ribuan Fotografer Ramaikan Canon PhotoMarathon Indonesia 2016



Usai sukses menggelar Canon PhotoMarathon Indonesia (CPMI) VIII 2016 di Surabaya dan Yogyakarta, Canon menutup ajang tahunannya di Jakarta, Sabtu (12/11/2016) di Epicentrum, Kuningan.

Pada acara terakhir ini, tampak ribuan pecinta fotografi dari berbagai latar belakang memadati atrium Epiwalk. Tentunya ditambah dengan atribut mereka masing-masing, peserta CPMI tak hanya terdiri dari fotografer berpengalaman saja, namun ada beberapa di antaranya adalah pelajar.

"CPMI 2016 diadakan tiap tahunnya sebagai wadah untuk para pecinta fotografi untuk memperluas jejaring sosial dan silaturahmi," ucap Merry Harun, Direktur Divisi Canon, PT Datascrip.

Perihal jumlah peserta di Jakarta tahun ini lebih banyak ketimbang jumlah peserta yang ikut tahun lalu. "Kali ini ada sekitar 2.000 peserta lebih yang ikutan ajang di Epicentrum kali ini," ungkap Yase Defirsa Cory, Marketing Manager Canon PT Datascrip.

"Peningkatan jumlah peserta pun tak terjadi di Jakarta saja. Surabaya dan Yogyakarta pun mengalami peningkatan yang tinggi, di mana ada sekitar 683 peserta di Surabaya dan 1.857 peserta di Yogyakarta," tambah Yesa.

Di Jakarta, peserta harus mengambil foto dengan tiga pilihan tema yang sudah ditentukan. Kali ini, tiga tema tersebut adalah "Saling menghargai, Sangat bernilai, Bersinar dalam kegelapan".

Tiap pemenang dari masing-masing tema akan mendapatkan kamera DSLR EOS 700D dan EOS 1200D, dan kesempatan untuk ikut serta dalam photo clinic di Danau Toba.

Selain itu, akan dipilih juga juara umum yang akan membawa pulang 1 unit kamera DSLR Canon EOS 750D, lensa EF-S 18-55 serta perjalanan klinik foto ke Jepang bersama juara dari kota Surabaya dan Yogyakarta.

Sumber : Liputan6
Baca selengkapnya

Minggu, 13 November 2016

Apa Keunggulan Olympus Dibanding Sony, Panasonic & Fujifilm?

Peluncuran kamera mirrorless terbaru Olympus.

Sejumlah vendor kamera menawarkan keunggulan dari masing-masing produk yang diluncurkan ke pasaran. Hal ini membuat fotografer pemula bingung ketika kali pertama ingin membeli kamera.

Salah satu vendor kamera kenamaan asal Jepang, Olympus, mengklaim memiliki karakter berbeda dari kamera yang ada di pasaran saat ini. Lalu, apa keunggulan dari kamera Olympus dari merek kamera lainnya, seperti Sony, Panasonic, dan Fujifilm?
"Panasonic memiliki sejarah panjang soal videografi, di mana mereka fokus pada perekaman video. Sementara Fujifilm dikenal sebagai kamera film dan desain retronya, sedangkan Sony terkenal dengan sensor kamera full frame," kata Lucas Tan, Regional Product Manager, Imaging Business Division Southeast Asia and Asia Olympus, Selasa (26/4/2016) di bilangan SCBD, Jakarta.
Olympus sendiri, lanjutnya, memiliki karakter kecepatan dan kestabilan saat memotret gambar. Tanpa harus menggunakan alat bantu, seperti tripod, kamera Olympus dapat mengunci obyek dengan cepat meskipun dalam kondisi minim cahaya.

"Pertanyaannya adalah bagaimana Anda mengambil foto di kondisi cahaya rendah dengan satu tangan tanpa tripod selama 1 detik, memakai kamera DSLR yang Anda miliki saat ini? Olympus dapat melakukan hal itu dengan mudah. Dijamin foto yang dihasilkan terlihat tajam dan detail," ujar Lucas dengan percaya diri.
Di samping itu, Lucas juga membandingkan kamera DSLR kelas profesional yang baru saja diluncurkan dua raksasa vendor kamera, Nikon dan Canon.
"Nikon mengeluarkan D5 dan Canon baru saja merikis 1Dx Mark II. Mirrorless saat ini sudah melewati DSLR tradisional. Sistem micro four thirds Olympus ke depannya akan meng-cover semua kondisi pemotretan seperti yang telah diadopsi Nikon D5 dan Canon 1Dx Mark II," paparnya.
Soal teknologi perekaman video, Lucas mengklaim bahwa Olympus tidak fokus pada video karena sejarah Olympus adalah sebagai penyedia perangkat fotografi, yang sudah 80 tahun membuat kamera.
Baca selengkapnya

GFX-50S, Kamera Medium Format 51,4 Megapiksel dari Fujifilm

Tampilan kamera medium format perdana dari Fujifilm, GFX-50S (sumber: petapixel.com)

Fujifilm akhirnya resmi memperkenalkan kamera medium format perdana. Dalam gelaran PhotoKina di Berlin, Senin (19/9/2016) waktu setempat, perusahaan asal Jepang itu memperkenalkan sistem kamera baru GFX dengan sensor CMOS berukuran besar, yakni 43,8mm dan 32,9mm.

Kamera medium format perdana dari Fujifilm, GFX-50S (sumber: engadget.com)

Seri pertama kamera GFX ini diberi nama GFX-50S, dengan berat hanya 800 gram. Sama seperti seri X, GFX merupakan kamera mirrorless dengan desain yang lebih ringkas dan memiliki resolusi 51,4MP.

Mengutip informasi dari laman The Verge, Selasa (20/9/2016), sensor dalam kamera ini 70 persen lebih besar dari format 35mm. Ukuran sensor ini juga jauh lebih besar dari sensor APS-C yang lebih umum dipakai kamera mirrorless dan DSLR saat ini.

Kamera ini juga dibekali viewfinder yang dapat dilepas dan diletakkan di bagian atas. Selain itu, ada pula viewfinder alternatif yang ditujukan untuk mengambil video dengan sudut berputar.

Kamera ini memiliki resolusi 51,4MP dengan sistem lensa baru. Pada kesempatan tersebut, Fujifilm juga memperkenalkan sistem lensa G-mount yang memang ditujukan untuk keperluan kamera medium format.

Sayangnya, Fujifilm belum membocorkan banderol harga dari GFX-50S. Namun perusahaan itu menargetkan harganya akan berada di bawah US$ 10.000, ditambah dengan lensa GF 63mm dan viewfinder. Rencananya, kamera ini sudah tersedia pada awal 2017.

Kamera medium format perdana dari Fujifilm, GFX-50S, yang memiliki resolusi 51,4MP (sumber: pocketlint.com)

Selain Fujifilm, perusahaan lain yang lebih dulu memperkenalkan teknologi kamera serupa adalah Hasselblad lewat seri X1D. Kamera medium format perusahaan Swedia itu sendiri dibanderol dengan harga US$ 9.000 (Rp 118 jutaan).

Sebagai informasi, kamera medium format memiliki banyak keunggulan yang tak dimiliki kamera lain. Salah satunya adalah kemampuan menciptakan foto kelas profesional yang tak dapat dihasilkan kamera dengan format lebih kecil.

Biasanya, kamera medium format hadir dengan desain yang relatif besar dan berat. Kamera jenis ini memang kerap digunakan dalam studio fotografi. Karenannya, bobot yang ringan jelas menjadi keunggulan dua perusahaan kamera kenamaan tersebut.
Baca selengkapnya

Foto Orang Utan Ini Dinobatkan sebagai Foto Terbaik Dunia 2016


 Sebuah Museum Sejarah Alam yang bertempat di London baru saja mengumumkan pemenang penghargaan kontes tahunan Wildlife Photographer of the Year. Foto yang menjadi juara merupakan foto orang utan asal Indonesia yang sedang memanjat pohon.


Dalam kompetisi tersebut, juri harus bekerja keras karena menerima lebih dari 50.000 foto dari 95 negara yang berbeda. Jumlah itu kemudian diseleksi hingga menjadi 100 daftar foto terbaik, yang juga dipamerkan di Museum Sejarah Alam di London, seperti dilansir businessinsider.co.id, Kamis (27/10/2016).
Foto terbaik yang menggambarkan kehidupan orang utan tersebut merupakan karya seorang ilmuwan yang juga seorang fotografer kebangsaan Amerika, Tim Laman dengan judul "Entwined Lives".



Selain Tim Laman, ada juga penghargaan khusus yang diberikan kepada peserta lomba yang berusia dibawah 17 tahun asal London, Gideon Knight dengan karyanya berjudul "The Moon and The Crow".
Foto-foto pemenang nantinya akan dibawa keliling dan dipamerkan dalam rangkaian tur Museum Sejarah Alam London, mulai dari Inggris hingga ke negara-negara lainnya.
Baca selengkapnya