Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2016

REVIEW FUJI MIRRORLESS XM-1




      Pada kesempatan kali ini saya akan review tentang kamera mirrorless dari fuji yaitu XM-1. Kamera ini memiliki konsep desain yang compact dan stylish. Misal saja kamera X-Pro1 dan X-E1 yang lebih diperuntukan untuk profosional dan penggemar fotografi, X-M1 lebih kepada pengguna umum yang menginginkan kualitas gambar yang dapat diandalkan dengan pengopersian yang lebih mudah.
Fuji XM-1 dihadirkan dengan konsep retro dengan tampilan modern, kualitas body yang baik dan nyaman digenggaman, tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan sehingga tangan lebih stabil saat melakukan jepretan tanpa bantuan tripod. 
      XM-1 juga dibekali sensor APS-C X-Trans CMOS 16.3 megapiksel, serta memiliki susunan filter yang unik pada X-Trans CMOS nya.Tidak hanya menawarkan ISO tinggi hingga 25600, namun kualitas menangkap gambar di kondisi low light pada ISO 6400 pun masih terlihat baik-baik saja. Salah satu yang menjadikan banyak orang menyukai X-M1 juga adalah karena mampu memotret di bawah cahaya rendah dengan tetap tidak minim noise.
Fuji XM-1 dapat melakukan pengambilan foto bebas stres dengan waktu start-up 0,5 detik, jeda waktu rana 0,05 detik dan kecepatan kontinue 5,6 frame per detik. Respon cepat dan baik ini berkat dukungan prosesor II EXR.
      Pada fuji XM-1, kita dapat menemukan filter efek yang berbagai yaitu Toy Camera, Miniature, Pop Color, High-key, Low-key, Dynamic Tone, Soft Focus, Partial Color dan sebagainya. 
Seperti pada mirrorless camera lainnya, Fujifil X-M1 mendukung teknologi nirkabel untuk bisa terkoneksi dengan smartphone untuk kemudian upload foto, video ke jejaring sosial.

Post by : Rezky Perdana
Baca selengkapnya

Jumat, 25 November 2016

(REVIEW) Canon 650D

Kamera Canon 650D merupakan kamera DSLR tingkat pemula Canon yang diluncurkan tahun lalu, dan meningkat fitur-fiturnya cukup banyak dibandingkan kamera sebelumnya yaitu Canon 600D. Fitur-fiturnya malah lebih dari kakak kelasnya Canon 60D. Dan sempat memusingkan banyak calon pembeli/upgraders. Sebenarnya, Canon sudah meluncurkan pengganti untuk kamera ini, yaitu 700D, tapi perbedaannya terlalu sedikit dan tidak penting.
Beberapa saat lalu, saya membeli Canon 650D dengan paket lensa 18-135mm IS STM untuk kebutuhan mengajar di kupas tuntas kamera DSLR Canon. Dan setelah memakai kamera ini saat demonstrasi foto portrait outdoor dan indoor, saya jadi lebih mengenal 650D. Dalam pengoperasiannya, kamera 650D ini mirip dengan kamera-kamera DSLR Canon tingkat dasar/pemula lainnya.

 

 

BADAN KAMERA

Jumlah tombol dan kenop pengendali tetap sama. Bedanya ada yang sedikit lebih kecil, ada yang lebih besar. Tombol ISO misalnya, ukurannya lebih besar daripada kamera Canon 550D dan letaknya lebih enak dijangkau dengan jari. Untuk antar muka tombol-tombolnya bisa dibilang oke dan pegangan juga pas, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. (Sebagai info tangan dan jari-jari saya agak kurus dan tidak besar).
Ukuran 650D tidak terlalu besar, tapi tidak bisa dibilang kecil. Sedikit lebih berat (50g) dari 550D dan sekitar 0.5-1 cm. Dimensi yang lebih bongsor ini akibat dari penambahan layar LCD lipat. Dibagian atas kamera, ada microphone stereo yang lumayan buat merekam suasana lingkungan. Casing 650D masih sama dengan kamera tingkat dasar pendahulunya yaitu dari bahan plastik keras. Lebih baik daripada bahan di kamera Canon 1100D tapi finishingnya tidak sebaik Canon 700D atau 60D.

 

KUALITAS GAMBAR

Canon 650D memiliki sensor APS-C 18 MP yang sudah teruji dan sudah dipakai diberbagai kamera Canon dari 550D, 700D, 60D dan 7D. Di satu sisi, cukup disayangkan bahwa Canon belum juga meng-upgrade kualitas sensor kamera yang sudah berumur kurang lebih 3 1/2 tahun. Di sisi lain, sensor gambar ini tidak jelek terutama saat memakai lensa berkualitas tinggi dan ISO dibawah 400. Tapi kadang-kadang, meski memakai ISO rendah, daerah bayangan yang gelap sering muncul noise (bercak-bercak). Sebagai perbandingan, pesaing utama Canon, Nikon sudah memperbaharui kualitas sensornya selama dua kali selama 4 tahun terakhir yaitu dari sensor 12 MP (D5000, D90, ke 16 MP (D5100, D7000) dan kemudian 24 MP (D3200, D5200 dan D7100).
Meski di sisi kualitas gambar agak mandek, tapi kalau bicara fitur teknologi baru, Canon sedikit diatas angin. Canon 650D ini adalah kamera DSLR pertama yang memiliki fitur layar sentuh, sehingga kita bisa berinteraksi dengan layar seperti saat kita memainkan ponsel pintar. Layar sentuh memudahkan untuk mengganti setting kamera, memilih subjek untuk difokuskan dan juga untuk membuat foto. Teknologi lain yang dikembangkan Canon yaitu hybrid CMOS sensor, yang membuat autofokus saat live view menjadi lebih cepat.  Lalu ada juga perkembangan teknologi lensa dengan diluncurkannya STM (Stepper motor) yang membuat autofokus lebih mulus dan senyap.
Lensa 18-135mm f/3.5-5.6 IS STM yang dipaketin adalah lensa yang dirancang untuk multifungsi karena jarak fokusnya cukup lebar, dari 18 sampai 135mm. Oke banget buat jalan-jalan. Ukurannya tidak terlalu panjang. Beratnya hampir seberat kamera, yaitu sekitar 460 gram Cocok disandingkan dengan Canon 650D.
Kualitas foto yang dihasilkan sangat baik dan tajam saat pencahayannya tepat. Latar belakang juga bisa dibuat blur saat memakai di jarak fokus telefoto (70-135mm). Namun karena bukaan lensa yang tidak besar (sekitar f/5-5.6 di jarak fokus tele), maka blur latar belakangnya tidak se-ekstrim lensa bukaan besar seperti 50mm f/1.8 atau 70-200mm f/2.8.
AUTOFOKUS
Modul autofokus di kamera ini sama dengan yang dimiliki kamera kelas menengah seperti Canon 40D, 50D dan 60D. Modul ini terdiri dari sembilan titik fokus yang menyebar seperti bentuk berlian/diamond dan kesembilan titik ini berjenis silang, yang lebih sensitif dan cepat. Dalam praktiknya, memang kinerja kecepatannya sangat baik.
Untuk autofokus saat live view, ceritanya sedikit berbeda. Pergerakan autofokus memang cukup mulus dan tidak bersuara, tapi masalahnya adalah sebelum mengunci autofokus, akan terjadi pergerakan hunting bolak balik terlebih dahulu. Di kondisi cahaya gelap misalnya di dalam kamar, dan saat pencahayaan/warna berkontras rendah, seringkali autofokus cuma maju mundur tapi tidak mengunci fokus.
Sayangnya juga, untuk bisa manual fokus, kita harus menggeser tuas AF/MF dulu di lensa 18-135mm karena tidak ada “manual override”. Di lensa yang kelasnya lebih tinggi, kita dapat langsung memutar barrel fokus secara manual untuk mencari fokus jika autofokus gagal.
KESIMPULAN
Secara keseluruhan Canon 650D adalah kamera dengan fitur yang cukup lengkap dan baik untuk kalangan pemula dan semi-profesional. Sayangnya fitur yang cukup canggih ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas gambar yang sudah sejak tahun 2010. Lensa Canon EF-S 18-135mm IS STM merupakan pasangan yang cocok untuk kamera ini. Kombinasi 650D dan 18-135mm STM cukup baik untuk memotret macam-macam jenis fotografi seperti landscape, portrait, candid, olahraga, liputan acara, dll. Meskipun tentunya tidak sesempurna lensa yang lebih khusus.
Kelebihan Canon 650D
  • Kinerja autofokus saat mengunakan jendela bidik optik cepat dan bekerja dengan baik
  • Implementasi layar sentuh sangat baik
  • Ada layar LCD lipat yang memudahkan untuk merekam foto & video
  • Lampu kilat dapat digunakan untuk memberi instruksi ke flash Canon yang dilepas dari kamera (wireless flash)
  • Tata letak tombol baik dan mudah dijangkau
  • Jumlah tombol cukup lengkap untuk ukuran kamera tingkat dasar
Kekurangan Canon 650D
  • Autofokus saat live view sering hunting (mencari-cari fokus)
  • Kualitas foto cukup baik, tapi sedikit ketinggalan dari kamera pesaing
  • Tidak ada lampu pembantu autofokus khusus. Kamera akan memancarkan kilatan flash berulang-ulang yang dapat mengganggu subjek)
  • Sistem Auto ISO yang tidak begitu optimal dalam memilih ISO yang paling cocok dengan kondisi pencahayaan
Post By : Muhammad Razly



Baca selengkapnya

Rabu, 23 November 2016

(REVIEW) Lensa YONGNUO 50mm F.1,8 mount Canon

Pernah merasa kesulitan untuk mebeli lensa kamera? terlebih lagi dilema dengan istilah "Ada harga tentu ada kualitas". Hal ini merupakan momok yang tidak bisa dipndang sebelah mata oleh fotografer yang memiliki kantong tipis. Namun hal ini ini bukan berarti tidak ada lensa bagus namun murah, disini saya akan mereview Lensa 3rd party dari brand YongNuo dimana brand ini sagat terkenal dalam Flash External kamera. Saya akan mencoba membandingkan Lensa YongNuo 50mm f.1,8 mounting Canon dengan lensa Canon 50mm f.1,8.

1. Ketajaman: Menggunakan Aperture 1.8 / 2.8 / 5.6

*Titik Fokus Tengah



Canon 50mm f.1,8
 
YongNuo 50mm f.1,8
Setelah dibandingkan, hasil lensa YongNuo lebih baik dibandingkan dengan Canon jika dilihat dari pengambilan di titik fokus tengah.

*Titik Fokus Sudut Kiri Atas

Canon 50mm f.1,8

 
YongNuo 50mm f.1,8

Setelah dibandingkan pada pengambilan titik fokus sudut kiri atas, lensa YongNuo mempunyai hasil lebih baik. Namun, sedikit lebih terang dibandingkan dengan Canon.

*Titik Fokus Sudut Kanan

Canon 50mm f.1,8

YongNuo 50mm f.1,8

Setelah dibandingkan, pada pengambilan di titik fokus sudut kanan lensa YongNuo mempunyai hasil yang hampir sama dengan Canon, namun sedikit lebih terang pada hasil lensa YongNuo.

 

2. Flare

Flare sendiri merupakan efek dimana terdapat cahaya yang masuk dan menyebar di dalam lensa melalui mekanisme yang tidak diharapkan, misalnya pantulan internal dalam lensa atau material (bilah) lensa yang kurang homogen. Perbedaan tes untuk efek flare pada lensa YongNuo dan Canon EF 50 f/1.8 juga telah didapatkan. Kedua lensa di uji hasil flare pada bukaan aperture f.1,8 dan f.5,6. Dan berikut hasilnya :

f.1,8

f.5,6

Setelah didapatkan gambar dengan efek flare menggunakan lensa YongNuo dan Canon dengan aperture f/ 1.8 dan f/5.6, ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Efek flare YongNuo lebih lebar dan terkumpul disamping. Sehingga, menjadikan flare-nya lebih terkontrol.


3. Bokeh

Bokeh sendiri berasal dari bahasa jepang yakni “Boke” yang memiliki arti menjadi kabur atau buram atau bias juga dikatakan titik luar dari fokus. Dengan adanya bokeh pada sebuah foto maka titik fokus yang jatuh pada sebuah objek akan menjadi sangat jelas sedangkan areal selain fokus itu sendiri akan menjadi bokeh atau blur. Bokeh sering dipergunakan dalam fotografi makro, model, jurnalistik, dll. Tergantung pada fotografernya ingin menonjolkan apa dalam foto tersebut. Lain halnya dengan fotografi arsitektur dan landscape yang hampir tidak pernah menggunakan bokeh dalam kreasinya dan cenderung memiliki bidang fokus dari ujung sisi ke ujung sisi lainnya.
Dibawah ini adalah contoh perbandingan hasil foto bokeh yang dihasilkan oleh YongNuo dan Canon

Bokeh dari lensa Canon pada bukaan aperture berturu-turut di f.1,8, f.2,8, dan f.5,6

Bokeh dari lensa YongNuo pada bukaan aperture berturu-turut di f.1,8, f.2,8, dan f.5,6
Bagaimana, sudah melihat sendiri hasilnya bukan?
Melalui perbandingan hasil gambar bokeh pada YongNuo dan Canon menggunakan lensa EF 50 F/1.8, YongNuo lebih mendapatkan hasil yang makismal dan mendapatkan bokeh yang lebih besar. Terutama, pada hasil segi enam bokeh-nya yang tampak lebih indah.

Terbukti, Lensa YongNuo Mampu Bersaing

Dari studi yang dilakukan oleh Jay Levitt terkait dengan perbedaan gambar yang dilihat dari beberapa aspek seperti ketajaman, efek flare, dan efek bokeh menggunakan lensa YongNuo dan Canon EF 50 F/1.8, didapatkan bahwa YongNuo lebih unggul.
Lantas, apakah hasil ini menjelaskan bahwa Canon kalah saing dengan YongNuo dari segi kualitas?
Benar jika dilihat dari tiga aspek perbandingan di atas, tapi tidak untuk yang lainnya. Tapi tetap saja, lensa YongNuo masih punya kekurangan. Beberapa kekurangannya seperti tak adanya garansi resmi dari distributor dan beberapa pengguna mengeluhkan akurasi auto fokus yang terkadang sedikit lebih lamban dalam mengambil objek gambar.

Diposting Oleh : Ricky Junaidi
























Baca selengkapnya